KABARFRESH.COM – Allah Subhanahu Wata’ala adalah Dzat yang menciptakan manusia dengan segala bentuknya. Kecintaan Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya melebihi dari segalanya.
Mungkin seorang hamba masih suka lalai akan perintah-Nya dan bahkan cenderung berbuat dosa atau maksiat. Akan tetapi, selagi dia mau kembali dan bertaubat kepada Allah, Allah SWT masih memberikan ampunan untuknya. Allah mengampuni segala dosa, kecuali dosa syirik (menyekutukan Allah dengan yang lain). Ini bukti kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya.
Cinta Allah sangat besar kepada para hamba-Nya. Tentunya setiap hamba pun ingin mendapatkan cinta dari Allah SWT. Lalu apa yang harus dilakukan seorang hamba untuk mendapatkan cinta-Nya?
Dalam kitab Riyadh As-Shalihin, Imam an-Nawawi menyebutkan salah satu hadits yang diriwayatkan Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata;
سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا. قُلْتُ : ثُمَّ أَيِّ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ». قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
“Aku bertanya kepada Nabi Saw, ‘Manakah amal yang lebih dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Salat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada orang tua.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)
“Shalat tepat pada waktunya”, artinya seorang hamba ketika memasuki waktu shalat dan mendengar panggilan Allah untuknya, baik zahir maupun bathin, dia bergegas segera untuk menghadap dan bersujud kepada-Nya. Ini juga menunjukkan bahwa perbuatan disiplin dalam ibadah merupakan perbuatan yang dicintai Allah SWT.
“Berbakti kepada kedua orang tua”, artinya seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dia memahami arti syukur dan pengabdian. Syukur kepada Allah yang telah menciptakannya dan syukur kepada kedua orang tua yang menjadi wasilah atas kehadirannya di alam semesta.
Dia memahami dan sadar bahwa lantaran keduanya dia terlahir, mendapatkan perawatan dan bimbingan. Lantaran keduanya, dia dapat melihat dunia, tertutup auratnya, dan memperoleh ilmu pengetahuan yang pertama kalinya.
“Jihad di jalan Allah SWT”, dapat berarti perang melawan musuh demi menegakkan agama Allah. Juga dapat berarti mengerahkan segala apa yang dimiliki untuk di jalan Allah, baik tenaga, harta, ilmu, maupun lainnya.
Berdasarkan hadits di atas, maka jika seseorang dapat melaksanakan tiga amalan itu, dia termasuk golongan hamba yang mendapatkan cinta Allah SWT. Wallahu A’lam. ***














