Penyebab Kegelisahan Hati Menurut Hadits Nabi Sallallahu ‘Alahi Wa Sallam

KABARFRESH.COM – Hampir setiap manusia dalam kehidupannya pernah mengalami rasa gelisah. Gelisah adalah perasaan tidak tenang dan khawatir yang dapat mempengaruhi pikiran dan emosi seseorang. Perasaan gelisah bisa muncul karena suatu hal, terkadang juga tanpa sebab yang jelas.

Gejala gelisah ini bisa berupa kecemasan, kekhawatiran, pikiran yang selalu berputar, atau perasaan yang tidak menentu. Sehingga seseorang yang suasana hatinya sedang gelisah, ia tidak merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam dirinya, bahkan mengalami susah tidur.

Hati dalam bahasa Arab adalah “al-qalb”. Disebut al-qalb karena kondisinya suka berubah-ubah, atau bolak balik. Hati seseorang dalam kondisi tertentu merasa senang, pada kondisi yang lain merasa sedih.

Dalam Islam, rasa gelisah yang dialami seseorang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukannya. Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan yang melanggar syariat (dosa, maksiat). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi Saw:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا الْإِيمَانُ؟ قَالَ: «إِذَا سَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ، وَسَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ فَأَنْتَ مُؤْمِنٌ» . قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَمَا الْإِثْمُ؟ قَالَ: «إِذَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ شَيْءٌ فَدَعْهُ

“Diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw.: Apa iman itu? Beliau bersabda, “Bila kebaikanmu menggembirakanmu dan kejelekanmu meresahkanmu berarti engkau mukmin.” Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah! Apa itu dosa? Beliau bersabda, “Bila sesuatu menggelisahkan hatimu, tinggalkanlah.” (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Ath-Thabrani)

Hadis di atas menjelaskan, bahwa tanda dosa adalah sesuatu yang apabila dilakukan dapat membuat hati gelisah. Karena itu Rasulullah Saw memerintahkan untuk meninggalkan perbuatan yang dapat mendatangkan kegelisahan dalam hati.

Kondisi hati manusia yang suka bolak balik dan cenderung berubah-ubah, dapat berpotensi melakukan perbuatan ketaatan dan juga kemaksiatan. Karena itu Rasulallah mengajarkan sebuah do’a, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، يَقُولُ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ» ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya kalbu Bani Adam berada di antara dua jemari dari jari jemari ar-Rahman. Dia membolak-balikannya sebagaimana Dia kehendaki.” Kemudian Rasulullah Saw. berdoa, Ya Allah, Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!” (H.R. Muslim)

Keberpalingan hati kepada ketaatan, tentunya akan lebih membuat hati merasakan ketenangan. Ketenangan hati adalah sebuah karunia dan sesuatu yang mahal. Maka apakah seseorang lebih memilih menggadaikan hatinya dengan sesuatu yang lebih murah dan mendatangkan kegelisahan!

Itu adalah pilihan dan kembali kepada diri seseorang. Karena dalam ajaran Islam, seseorang akan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan sesuai dengan apa yang telah ia lakukan.***

Writer: Fadhol Editor: Fadhol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *